Memamah sirih pinang sudah menjadi tradisi masyarakat di beberapa daerah di indonesia yang tidak diketahui mulai kapan kebiasaan tersebut berlangsung. Tradisi ini juga sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Timor, hampir seluruh acara adat dan acara resmi lain selalu diawali dengan acara makan sirih pinang terlebih dahulu. Ketika tamu baru datang, sebelum minuman dihidangkan biasanya terlebih dahulu disediakan seperangkat sirih pinang di atas meja. Dan konon sebagai tanda bahwa sang tamu menaruh rasa hormat pada tuan rumah, maka sang tamu harus mencicipi sirih pinang tersebut.  Jika kita pergi ke pelosok di wilayah daratan Timor Barat, maka kita akan sering menjumpai beberapa hal yang tidak ditemukan di tempat lain. Ketika memperhatikan penduduknya, hampir semua orang laki-laki dan perempuan selalu terlihat sebagai pesolek dengan balutan gincu di bibirnya. Dan tidak lupa mereka selalu membawa seperangkat peralatan yang biasanya disimpan dalam kotak atau tas kecil semacam box kosmetik. Tapi ternyata bibir yang merah itu bukanlah gincu melainkan warna yang membekas akibat sirih pinang di mulut mereka, sedangkan kotak box kosmetik yang disebut Oko Mamah atau yang berbentuk tube disebut Aluk itu adalah perlengkapan standar untuk menikmati sirih pinang. Oko Mamah biasa dipakai oleh para kaum wanita sedangkan Aluk dipakai oleh kaum laku-laki.
Selain itu, jika kita melihat ke hamparan tanah atau lantai di perkampungan penduduk, kita akan melihat banyak bekas bercak merah darah yang tercecer di atas tanah, diatas lantai, di batu, atau di dahan dan daun yang rendah. Tapi tak usah panik atau takut, itu bukanlah darah yang tertumpah akibat pembunuhan bukan pula bekas hewan yang terbantai.. itu adalah 'limbah organik' yang dihasilkan oleh proses fermentasi instan antara buah sirih, buah pinang, kapur, dan air liur penduduk. Di kampung ada kebiasaan setelah habis makan sirih dan pinang. Sesudah sirih dan pinang ditelan (atau tidak) dan ludah merah sudah mengering, maka perempuan-perempuan itu lalu menyumpal bibir mereka dengan segumpal tembakau. Gara-gara makan sirih pinang, gigi orang di kampung yang mengkonsumsi sirih pinang memang berwarna merah semua, tetapi jarang tanggal walaupun usianya sudah di atas 80 tahun, Mereka juga hampir tidak pernah mengeluh sakit gigi. Orang-orang kampung yang makan sirih pun tak pernah mengenal sakit kanker dan paru-paru atau penyakit dalam yang lain meskipun banyak yang jarang mandi. Kebanyakan orang di dusun memang tidaklah maju seperti daerah lain. Masih ada di antara mereka yang lebih percaya sirih pinang daripada ilmu kedokteran untuk menyembuhkan penyakit. Kalau sakit "tertikam" (dada terasa tertusuk karena masuk angin) maka sirih pinang lalu dikunyah dan ampasnya disembur di tempat sakit. Sebentar juga sembuh.
 | he..he..he.. sekarang kan banyak permen karet jadi yang dikunyah jg beda |
 | jadi ingin ngerasain nginang
|
| |
|